Showing posts with label Survey. Show all posts

KOMUNITAS INTERVIEWER RISET PASAR


Apakah Anda tertarik menjadi seorang Interviewer Profesional? Atau mungkin Anda ingin mengetahui lebih jauh mengenai Interviewer Riset Pasar? Atau boleh jadi Anda sedang membutuhkan Interviewer Profesional yang tersebar sampai ke daerah? Semua layak membaca artikel ini.

Meskipun pekerjaan sebagai interviewer (pewawancara) riset pasar bisa menjadi hal yang menyenangkan, namun pada saat yang sama Anda juga dituntut untuk tetap serius dalam bekerja, memiliki tanggungjawab dan keterampilan tertentu.

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang interviewer profesional berdasarkan pengalaman kami selama bertahun tahun berkecimpung dengan profesi yang menantang ini bersama Research Department, sebuah komunitas besar para interviewer riset pasar. Berikut beberapa tips untuk menjadi seorang interviewer profesional.

1. Memiliki rasa empati

Ini mungkin sepele, tapi penting. Ketika Anda ditemui oleh orang yang masih asing (tidak kenal), maka muncul dalam pikiran Anda sedikitnya ada 3 pertanyaan; “siapa orang ini?”, “dari mana orang ini?”, “apa tujuan orang ini?”, dan lain-lain (Anda bisa menambahkan sendiri).

Demikian pula dengan responden. Selama pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terpecahkan, selama itu pula pertanyaan terus berkecamuk dalam benak responden. Boleh jadi responden memutuskan untuk tidak menanyakan kepada Anda karena beberapa alasan, namun bisa dipastikan responden tidak akan fokus dalam memahami pertanyaan, asal menjawab, dan lebih parah lagi, diam-diam menghubungi satpam untuk mengusir Anda.

Oleh karenanya, perkenalan itu penting. Mulailah wawancara dengan memperkenalkan diri Anda, siapa Anda, dari mana, dan apa tujuan Anda menemuinya. Anda bisa memulainya dengan contoh berikut;

"Pak/Bu, saya Andi. Saya dari sebuah lembaga riset MARKETRENDS ASIA yang sekarang ini sedang mengadakan penelitian mengenai Telepon Selular. Kebetulan Bapak/Ibu termasuk salah satu profil responden yang sedang kami cari untuk diminta pendapat atau masukannya. Bisa minta waktu beberapa saat untuk wawancara Pak/Bu?".

Setelah responden dipastikan paham, maka teruskanlah wawancara ke pokok pembahasan. Jangan lupa pula untuk meminta tandatangannya ketika selesai wawancara, mengucapkan terimakasih atas waktunya, dan berikan bingkisan kecil sebagai tanda terimakasih.

2. Memiliki keterampilan membaca dan menulis yang baik.

Ingat, Anda akan mengajukan berbagai pertanyaan kepada responden dalam bentuk dan struktur yang telah ditentukan. Dengan kemampuan mengenali dan memahami maksud dari pertanyaan dalam kuesioner (mengacu pada saat briefing), maka akan mempermudah Anda untuk menggunakan pilihan kata atau istilah yang dapat dipahami oleh responden. Responden Anda tidak akan mengernyitkan dahi ketika berusaha memahami apa yang Anda katakan. Jika Anda harus mengisi kuesioner dengan pensil (PAPI), Anda harus memiliki tulisan tangan yang baik sehingga team leader atau supervisor Anda dapat dengan mudah membaca dan memahami hasil wawancara Anda.

3. Jadilah pendengar yang baik.

Selain memiliki keterampilan mendengarkan, Anda juga harus benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan oleh responden sehingga Anda dapat mengisi kuesioner secara akurat. Jangan sia-siakan waktu Anda, karena responden berikutnya telah menunggu kedatangan Anda. Jika Anda tidak mengerti apa yang responden katakan, Anda harus (dengan sopan) meminta mereka untuk penjelaskan lebih detil.

4. Memiliki keterampilan menggunakan telepon.

Walaupun tergolong jarang, wawancara melalui telepon (CATI) harus Anda kuasai. Suatu saat team leader atau supervisor Anda akan meminta Anda untuk melakukannya. Ketika responden menjawab telepon, Anda harus memperkenalkan diri dengan sopan, menyatakan tujuan Anda menelepon, kemudian lanjutkan dengan wawancara kecuali responden yang terlalu sibuk atau menolak wawancara. Untuk yang mengaku sibuk, cobalah untuk menawarkan wawancara di waktu yang lain, misalnya nanti, besok, lusa, atau minggu depan?

Selama percakapan, Anda harus tetap menjaga nada suara yang ramah. Berbicaralah dalam konteks tema wawancara. Di akhir wawancara, ucapkanlah terimakasih kepada responden atas waktu yang telah diberikan.

Berhati-hatilah terhadap orang yang memiliki latar belakang atau gaya berbicara berbeda dari Anda. Karena satu kata bisa memiliki makna yang berbeda. Disamping itu, Anda juga harus bisa bergaul dengan orang-orang selain sesama pewawancara dan supervisor Anda.

Nah, Anda telah mempelajari keterampilan dasar yang dibutuhkan oleh interviewer (pewawancara) riset pasar berdasarkan pengalaman kami. Tentu saja Anda dapat menemukan informasi lain yang dapat membantu Anda dalam upaya menjadi interviewer riset pasar. Saran kami, sering-seringlah mampir ke web log kami ini. Anda dapat membaca artikel-artikel menarik yang berkaitan dengan dunia riset pasar bersama Research Department.

Bagi Anda yang mungkin sedang membutuhkan interviewer, kami persilahkan untuk menghubungi kami di halaman CONTACT.

HEBATNYA CUSTOMER SATISFACTION and LOYALTY SURVEY


http://penelitianpasar.blogspot.com/
Loyalitas (loyalty)
Bagaikan sebuah “sihir”. Apa yang mereka sukai dan tidak sukai tentang produk atau perusahaan Anda.
Mengetahui apa yang membuat mereka datang kembali, lagi dan lagi, adalah sebuah rahasia besar bagi kesuksesan Anda. Loyalitas adalah sebuah “sihir” ketika Anda melihat mereka mulai berbicara tentang produk atau perusahaan Anda dan dengan senang hati mereferensikannya kepada orang lain. Sungguh menakjubkan!

Kepuasan (satisfaction)
Pelanggan yang merasa puas adalah mereka yang tidak memiliki pemikiran negatif baik mengenai produk maupun perusahaan Anda. Hal ini tidak berarti segala sesuatu harus selalu sempurna. Kadang-kadang kondisi emosi (sedih, gembira, kecewa, dll) akan mempengaruhi cara berfikir seseorang, dan hal ini sangatlah wajar. Dalam semua situasi ini, saatnya Anda untuk memberikan kesempatan pada pelanggan untuk berbicara dengan Anda. Mendengarkan keluhan pelanggan dengan tulus itu penting.

Customer Satisfaction and Loyalty Survey memberikan teknik di mana pelanggan akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi diri mereka sendiri, bercerita tentang merk dan perusahaan Anda tanpa ada seorangpun yang membatah. Hal penting lainnya adalah tindak lanjut. Sebuah analisis yang tepat akan membantu Anda melakukan segmentasi pelanggan Anda ke dalam kelompok yang berbeda berdasarkan apa yang perlu Anda lakukan sebagai bentuk tindak lanjut ini.

Komunikasi yang efektif
Dengan mengajak pelanggan untuk berbicara dengan Anda melalui perencanaan survei yang matang, Anda dapat secara efektif menginformasikan kepada pelanggan tentang hal-hal yang mungkin mereka tidak tahu atau mengingatkan mereka tentang perubahan penting atau inovasi dalam produk atau perusahaan Anda. Ini sebuah terobosan yang jitu! karena pelanggan akan membaca survei Anda dengan lebih berhati-hati dari pada komunikasi lain yang pernah Anda gunakan.

Layanan Customer Satisfaction and Loyalty Survey >>>klik disini.

MENYIAPKAN SKENARIO CENTRAL LOCATION TEST


Istilah "central location test" atau "test hall" mengacu pada tes terhadap konsumen yang dilakukan di fasilitas khusus yang disesuaikan di lokasi yang nyaman di mana kelompok-kelompok besar orang dapat berkumpul. 

Central Location Test (CLT) pada dasarnya adalah metode survei tatap muka dimana responden akan diundang, baik melalui pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan sebelumnya. Metode ini dirancang untuk studi yang memerlukan materi stimulus yang mungkin akan ditampilkan dan/atau diuji dalam kondisi standar. 

http://penelitianpasar.blogspot.com/Misalnya, dalam tes kemasan mungkin perlu menampilkan rak toko dalam ukuran yang sebenarnya atau mengukur eye-tracking, yaitu tes sensorik atau pemantauan gerakan mata responden menggunakan pencahayaan khusus dan ratusan sampel (prototipe) yang perlu disimpan dalam kondisi yang cukup aman, dll.

Untuk menyiapkan penelitian ini, sebuah lembaga riset harus mengambil sejumlah keputusan yang berdampak pada kualitas sekaligus memiliki nilai pemasaran dari data yang akan diperoleh. 

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan sebuah penelitian Central Location Test antara lain; 
  1. Skenario tes seperti apa yang akan digunakan?
  2. Haruskah responden diberitahu nama merek item/produk yang diteliti?
  3. Lokasi seperti apa yang akan dipilih untuk penelitian ini?
  4. Kriteria apa yang harus diperhitungkan dalam pemilihan (screening) responden?
  5. Bagaimana membujuk responden untuk mengikuti penelitian ini?
  6. Seberapa yakinkah proses penelitian ini bisa dikendalikan dengan aman sampai akhir?
  7. Apakah penentuan jadwal penelitian telah dirasa efektif?


Ketika merencanakan sebuah penelitian central location test, ada beberapa skenario yang bisa kita lakukan. Jika masing-masing responden hanya akan menilai satu produk, maka tes dengan skenario "monadik" bisa kita gunakan, sedangkan jika ada kebutuhan untuk menguji beberapa produk sekaligus, salah satu skenario tes lainnya bisa digunakan. Pemilihan skenario tes ini tidak hanya bergantung pada jumlah produk yang akan diuji tetapi juga pada tujuan khusus penelitian itu sendiri. 

Monadic Test
Dalam hal ini setiap responden menilai hanya satu produk kemudian dituangkan dalam sebuah kuesioner. Skenario ini digunakan dalam situasi misalnya peluncuran produk baru, yaitu untuk mengetahui apakah produk yang akan diluncurkan dapat diterima oleh konsumen. Jenis tes ini juga dapat digunakan untuk menilai produk-produk inovatif atau tidak memiliki kompetitor secara langsung di pasar. Jika ada kompetisi, maka tujuan dari tes ini adalah untuk menentukan posisi produk dalam kaitannya dengan produk pesaing, dan/atau untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan dari produk pesaing. 

Paired Comparison
Ini merupakan tes perbandingan yang paling sederhana, yaitu melibatkan responden yang diperlihatkan dua produk pada saat yang sama dan meminta mereka untuk membandingkan dalam hal kriteria yang telah ditentukan kedalam sebuah kuesioner. Skenario ini juga bisa digunakan untuk membandingkan formula yang berbeda dari produk yang sedang dikembangkan dalam rangka mengetahui produk mana yang paling cocok untuk dipasarkan. Penting untuk diingat, bahwa evaluasi produk dalam tes perbandingan ini adalah evaluasi yang bersifat relatif, responden akan menilai produk mana yang menurut mereka adalah baik. 

Sequential-monadic test
Sequential-monadic test biasanya digunakan untuk mendapatkan kedua penilaian produk baik relatif maupun absolute. Skenario ini melibatkan responden yang akan diminta untuk mengevaluasi beberapa konsep dengan cara dirotasi satu demi satu. 
Pertama, responden diberikan satu produk dan diminta menilainya melalui sebuah kuesioner. Kemudian diberi produk yang kedua, dan memintanya untuk menilai lagi melalui kuesioner kedua. Terakhir, responden diberi sebuah kuesioner untuk membandingkan produk pertama dan kedua. Responden harus mendapatkan semua konsep secara merata sebagai titik awal, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk melihat setiap konsep pertama. 
Responden pertama menilai setiap produk secara terpisah, dan kemudian membandingkannya. Hal ini memungkinkan klien untuk menentukan apakah perbedaan antara produk akan ditunjukkan oleh responden selama melakukan evaluasi perbandingan akhir. 

Proto-monadic test
Skenario ini berbeda dengan sequential-monadic test karena tidak ada kuesioner untuk menilai produk kedua. Produk pertama yang dinilai dan produk kedua hanya digunakan sebagai pembanding produk pertama. Urutan di mana produk yang diperlihatkan akan dirotasi, sehingga akan memberikan hasil perbandingan, sekaligus evaluasi pada masing-masing produk. 

Repeat paired comparison
Dalam skenario ini responden diminta untuk membandingkan dua produk yang sama setidaknya dua kali. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penilaian responden tidak akan sembarangan atau hasil dari sekedar kesan sesaat. Responden akan diberikan dua produk sekaligus, dan sebuah kuesioner untuk membandingkan diantara keduanya. Namun responden tidak diberitahukan bahwa produk-produk tersebut adalah sama. 

Dari semua skenario di atas, di mana ada sejumlah besar varian produk yang akan diuji, maka solusi yang dirancang adalah responden hanya menguji sebagian dari semua varian. Hal ini biasanya karena pembatasan anggaran atau waktu, atau sarana yang terbatas untuk menguji sejumlah besar sampel dalam satu sesi. Misalnya, ketika menilai rasa biskuit, dengan mencoba 4-5 produk, biasanya responden sudah dapat membedakan antara tingkat kemanisan biskuit berikutnya. 

“Blind” and branded tests
Merek merupakan bagian dari produk secara integral. Dalam menilai sebuah produk maka akan terhubung dengan kesadaran dan persepsi merek, opini yang objektif tentang pengguna, dan pengalaman konsumen terhadap merek tersebut. 

Untuk semua alasan ini, maka pertimbangan perlu atau tidaknya pemberitahuan merek dari produk yang diuji kepada responden menjadi sangat krusial, dan semua ini harus kembali kepada tujuan penelitian itu sendiri. 

A "blind" test harus digunakan di mana opini yang objektif tentang atribut produk itu sendiri (rasa, penampilan, dll) yang diperlukan - sehingga merek tidak akan mempengaruhi penilaian. Tes tersebut digunakan untuk membandingkan produk pesaing (mereka mengungkapkan perbedaan yang paling jelas diantara produk) atau pada tahap desain produk - tes pada prototipe memungkinkan produsen untuk menciptakan formula yang paling cocok untuk konsumen.


Disunting oleh: Sutrisno
dari berbagai sumber*

Konsumen Indonesia Gila Merek?


Konsumen Indonesia ternyata paling gila merek dibandingkan konsumen di negara Asia lainnya, termasuk China. Mereka jadi loyalis merek-merek ternama terutama karena dipesona oleh galeri-galeri modern yang menawarkannya, disamping karena pengaruh media.

Survei perilaku belanja konsumen McKinsey yang dilansir lewat studi terbaru mereka berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential, mengungkapkan konsumen Indonesia umumnya sadar merek dan sebagian besar sangat loyal.

Lebih dari 90 persen konsumen  sudah mengetahui dan menentukan merek yang akan mereka beli sebelum mengunjungi pusat-pusat belanja. Mereka juga tidak mudah mengubah pilihannya dari merek-merek yang sudah terbiasa mereka gunakan.

Yang menarik, jika persepsi umum mengatakan konsumen Indonesia biasanya lebih suka menjatuhkan pilihan karena harga yang murah, survei McKinsey berkata sebaliknya. Menurut survei itu, konsumen Indonesia umumnya paham bahwa semakin mahal sebuah merek, semakin tinggi kualitasnya. Dan kesadaran semacam ini, tambah survei tersebut, sangat tinggi, lebih tinggi bahkan bila dibandingkan dengan konsumen China.

Fakta lain yang penting adalah tentang apa yang paling mempengaruhi konsumen Indonesia dalam membuat keputusan memilih suatu merek. Menurut survei McKinsey, berbeda dengan konsumen di negara Asia lainnya, konsumen Indonesia dipengaruhi lebih sedikit tipe media. Diantara  tipe media yang sedikit itu, yang paling dominan adalah  televisi.

Menurut McKinsey, televisi dan promosi dari mulut ke mulut, menjadi yang paling penting mempengaruhi konsumen Indonesia. Untuk pembelian produk makanan dan alat rumah tangga, dua pertiga konsumen mengatakan mengandalkan informasi dari televisi dan mereka mengakui informasi itu kredibel. Sedangkan untuk pembelian barang elektronik, jumlahnya turun sedikit, yakni hanya setengah.

Konsumen Indonesia juga menganggap penting rekomendasi dari komunitas, teman dan keluarga dalam menentukan pilihan merek. Apalagi rekomendasi tersebut dapat mereka dapatkan melalui facebook, twitter mau pun blackberry messenger. Sebaliknya, kendati penggunaan internet semakin meluas, McKinsey menemukan hanya sedikit yang menyandarkan keputusannya kepada situs-situs penyedia produk dalam menetapkan merek pilihan.


JAKARTA, Jaringnews.com -

Survei Omnibus

Survei omnibus adalah salah satu metode riset pemasaran kuantitatif di mana data dari berbagai subjek akan dikumpulkan dalam sebuah wawancara dan pada saat yang sama.

Survei ini juga disebut survei piggyback. Ini adalah penelitian di mana beberapa klien berbagi biaya melakukan penelitian. Pelanggan biasanya menerima bagian dari informasi yang dikumpulkan khusus untuk mereka. Sebuah survei yang mencakup sejumlah topik, biasanya untuk klien yang berbeda. 

Survei Omnibus juga dapat digunakan untuk menjangkau audiens yang lebih spesifik seperti laki-laki atau perempuan, usia tertentu, pendidikan, atau kelompok pendapatan, atau bahkan individu yang terlibat dalam perilaku tertentu. Survei Omnibus adalah cara yang efektif untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, informasi hak milik mengenai warga hampir semua negara di dunia. Omnibus adalah sebuah survei dengan biaya bersama. 

Survei Omnibus adalah pilihan yang sangat baik ketika anggaran terbatas. Ini termasuk pertanyaan demografis yang disertakan pada setiap omnibus tanpa biaya tambahan untuk Anda, yang memungkinkan Anda untuk melihat bagaimana kelompok demografis yang berbeda (jenis kelamin, usia, wilayah negara, orang tua) menanggapi pertanyaan Anda.

Anda tertarik? Kirim email ke kami. 

Cara Menjadi Moderator FGD (Focus Group Discussion)


Focus Group Discussion yang lebih terkenal dengan singkatannya FGD merupakan salah satu metode riset kualitatif yang paling terkenal selain teknik wawancara. FGD adalah diskusi terfokus dari suatu group untuk membahas suatu masalah tertentu, dalam suasana informal dan santai. Jumlah pesertanya bervariasi antara 8-12 orang, dilaksanakan dengan panduan seorang moderator.

Berbeda dengan riset kuantitatif yang metodologinya memiliki sifat pasti(exact), metode FGD yang bersifat kualitatif memiliki sifat tidak pasti, berupa eksploratori atau pendalaman terhadap suatu masalah dan tidak dapat digeneralisasi. Kualitas hasil FGD sangat bergantung dari kualitas moderator yang melaksanakannya. Menjadi moderator susah-susah-gampang. Biasanya bagi rekan-rekan yang pertama kali memandu FGD akan merasa kebingungan dengan alur pembicaraan yang melompat-lompat dan repot menangani sifat-sifat peserta FGD yang sangat berbeda-beda

Bagi saya pribadi, FGD memiliki tantangan yang unik dibanding metode riset lainnya. Saya pernah stuck di sesi FGD yang sangat kaku karena di salah satu perusahaan milik pemerintah daerah itu, memutasikan pegawai ke daerah pelosok, semudah membeli gorengan di warung depan kantor. Anda bisa bayangkan bagaimana peserta sedapat mungkin menutup mulut rapat-rapat, tidak berpendapat. Atau di kesempatan lainnya saat saya menjalankan FGD dengan peserta ibu-ibu arisan dengan SES C dan D. yang suasananya lebih mirip demo panci jepang, karena riuh rendah saling berebut bicara. Ini semua memberi pengalaman yang berharga untuk dibagi pada Anda.

Berikut adalah beberapa hal yang saya sarikan dari pengalaman saya menjadi moderator berbagai forum FGD. Semoga bermanfaat sebagai gambaran bagi rekan-rekan yang akan mulai terjun menjadi moderator FGD profesional.

1. Terlibat dalam pembuatan moderator Guideline

Moderator guideline adalah dokumen yang berisi panduan bagi moderator mengenai topik FGD, pertanyaan apa yang harus diajukan dan faktor-faktor apa yang ingin didalami (probe) dalam FGD. Moderator guideline memiliki fungsi yang hampir sama dengan kuesioner pada metode survei, sehingga perlu dipahami secara mendalam oleh moderator. Yang paling baik tentu saja Anda sendiri sebagai moderator yang mengembangkan moderator guideline, namun jika Anda tidak dapat melakukan hal ini, ikut terlibat dalam pembuatannya adalah syarat minimal.

2. Membangun rapport dan suasana yang menyenangkan di awal sesi

FGD yang optimal diadakan dalam atmosfer santai namun fokus. Jika peserta tertekan atau merasa tidak nyaman, maka jawaban dan pernyataan yang dikeluarkannya seringkali bukanlah pernyataan yang sebenarnya. Hal ini tentu membawa bias bagi kesimpulan yang ditarik. Suasana santai dapat dibangun dengan layout ruangan yang cozy, dan relaxing music yang diputar sebelum sesi dimulai. Sedangkan rapport dibangun dengan bincang-bincang santai antara moderator dan peserta yang datang terlebih dahulu. Jangan pernah membiarkan peserta datang tanpa disambut dengan hangat, atau peserta akan menyesal telah memutuskan untuk menghadiri sesi ini.

3. Latih dan manfaatkan peripheral vision

Jika anda menatap lurus ke depan fokus pada suatu benda yang berjarak kurang lebih 2-3 meter, perhatikan bahwa yang tertangkap pandangan Anda bukan hanya benda tersebut. Tanpa menggerakkan bola mata, Anda tetap dapat melihat benda yang kurang lebih berada di samping kanan atau kiri. Inilah yang disebut peripheral vision. Saya biasa melatih cara memandang ini untuk mengetahui bahasa tubuh peserta FGD lain ketika pertanyaan saya ajukan kepada salah satu peserta. Bahasa tubuh peserta lain yang memberi pesan setuju atau tidak setuju, perlu kita perhatikan sebagai eksplorasi pendapat pada suatu pokok bahasan.

4. Mulai dari yang luas, mengerucut kepada yang spesifik

Setelah kita mengajukan pertanyaan yang umum, jawaban biasanya masih bersifat lateral dan sangat bervariasi. Jangan terjebak untuk mendalami setiap respons pada kali pertama respons tersebut muncul, atau Anda akan merasa terjun terlalu detail sehingga kehilangan big picture atas pertanyaan tersebut. Biasakan untuk melakukan listing dengan menuliskan pada secarik kertas atau jika ingin terlihat luwes, hapalkan saja. Setelah semua alternatif respons keluar, baru Anda coba untuk mendalami satu per satu.

5. Lihat juga yang tersirat, bukan hanya yang tersurat

Isi respons adalah suatu hal, namun bagaimana cara menyampaikan jawaban tersebut juga unsur lain yang perlu diperhatikan. Lihat secara lebih dalam apabila muncul ; senyum kecut, tertawa sinis, anggukan yang gamang, atau respons berapi-api yang tidak wajar. Hal-hal ini memberi sinyal bahwa ada sesuatu di balik jawaban yang diberikan.

6. Gunakan Humor untuk mencairkan suasana

Banyak keadaan kritis yang bisa dinetralisir dengan humor. Kadang-kadang resistensi atau keengganan menjawab juga dapat diminimalisir dengan humor. Namun demikian, selami budaya peserta untuk memastikan bahwa humor Anda bukan yang menyinggung namun mendekatkan hubungan Anda dan peserta FGD.

7. Jangan menerima jawaban umum yang normatif

Save the best for last. Saya menyimpan tips paling penting di akhir tulisan ini. sebagai moderator FGD, kualitas analisis kita ditentukan oleh seberapa spesifik respons yang kita dapatkan. Kita tidak menerima jawaban semacam : “ohh service di outlet ini bagus kok…” Jika mendapat jawaban seperti itu, indera moderator Anda harus berdering dan ajukan pertanyaan untuk mendalami jawaban tersebut seperti ;” bagus seperti apa yang ibu maksud..?”. nah kejelian Anda untuk mengidentifikasi respons semacam ini perlu selalu diasah. Amati respons yang memiliki unsur generalisasi, distorsi, atau eliminasi.

Wahyu T. Setyobudi
Kepala Divisi Riset – PPM Manajemen

Survey, Kredibilitas dan Calon Presiden

SURVEY merupakan salah satu metode yang sering dipakai untuk mengetahui preferensi para pemilih. Melalui survei para peneliti bisa membuat generalisasi dan pada akhirnya bisa membuat ramalan tentang kandidat atau partai mana yang lebih memiliki peluang memenangkan kontestasi/pemilu.

Pada awalnya, ketika metode itu dipakai menjelang Pilpres 2004, banyak orang dan politisi yang meremehkannya. Survei tidak lebih dipandang sebagai kembangan menjelang pelaksanaan Pilpres. Hal ini tidak lepas dari hasil survei awal, SBY mengungguli calon-calon lainnya. Padahal SBY berasal dari partai baru, PD, sedangkan calon lainnya berasal dari partai-partai besar. Para pengkritik itu berasumsi bahwa pilihan partai akan berbanding lurus dengan pilihan calon presiden.

Ketika hasil Pilpres mirip dengan hasil survey, barulah banyak orang terbelalak. Lebih-lebih para pelaku survei itu juga melakukan quick count hasil pemilihan, yang hasilnya mendekati hasil penghitungan secara manual. Orang bertambah percaya pada hasil survei. Bahkan, para penyelenggara survey kemudian disebut ‘dukun politik’. Merekapun mulai banyak dilirik dan laris manis.

Sejak saat itu, muncul lembaga survei baru. Kemunculan ini berseiring dengan perubahan sistem pemilihan kepala daerah, dari sistem perwakilan ke sistem langsung. Kebutuhan memenangkan pemilihan berdasarkan data yang akurat kian kuat. Maka, lembaga survey lalu menjadi andalan untuk mengawal pencalonan itu.

Pesanan?
Belakangan muncul tudingan, lembaga survey yang tidak kredibel, melakukan survei berdasar pesanan. Ini setelah sejumlah lembaga survei melakukan release hasil surveinya mengenai calon-calon presiden yang diperkirakan akan memperoleh suara lebih berarti pada Pilpres 2014. Masing-masing lembaga me-release hasil yang cukup ‘mengejutkan’. Dalam satu lembaga, ada nama yang memperoleh suara cukup besar, di lembaga lain nama itu tidak muncul. Lho, kok bisa?

Spekulasi, bahkan tuduhan pun bermunculan. Ada lembaga-lembaga survey yang dianggap melakukan rekayasa untuk memenuhi pesanan calon atau kekuatan tertentu. Dengan kata lain, lembaga demikian dianggap tidak kredibel. Lembaga seperti ini kemudian dipandang tidak layak melakukan survei. Untuk menghindari lembaga seperti ini, muncul gagasan agar ada akreditasi lembaga survei.

Tuduhan bahwa ada lembaga survei yang dibayar bukan sesuatu yang baru. Bahkan, ketika ada survey menjelang Pilpres 2004, tuduhan serupa sempat muncul. Lebih-lebih hasil survei-nya dianggap tidak jamak karena tidak seperti yang diasumsikan.

Tuduhan semacam itu memang tidak sepenuhnya salah. Bagaimanapun juga, lembaga survey pada akhirnya merupakan lembaga profesional, yang melakukan survei berdasarkan ‘pesanan’, yaitu calon, partai atau kelompok lain yang membutuhkannya . Untuk melakukan survei sendiri dibutuhkan biaya yang tidak ringan, karena itu justru menjadi ‘aneh’ ketika ada lembaga survey yang terus menerus melakukan survei tanpa ada yang membiayainya.

Memang, dalam situasi tertentu ada lembaga survey yang betul-betul ‘independent’, tidak terkait dengan calon atau partai tertentu. Lembaga demikian biasanya melakukan survey atas kepentingan akademik, dibiayai oleh lembaga-lembaga yang tidak memiliki kepentingan di dalam pemilihan. Tetapi, untuk melakukan hal yang sama secara terus menerus biasanya sulit dilakukan karena kepentingan untuk membiayai survey secara akademik itu terbatas, sementara pemilu, termasuk pemilu kada dan pilpres, terus bergulir.

Meskipun demikian, adanya pihak yang melakukan pemesanan itu tidak berarti bahwa lembaga survey itu bisa melakukan sesuatu seenaknya sendiri. Kaidah-kaidah di dalam melakukan survei, agar berlangsung secara obyektif dan minimalisasi kesalahan (eror), tetap harus dijaga.

Hal seperti itu dilakukan bukan semata-mata untuk kepentingan menjaga kredibilitas atau kebenaran, melainkan juga untuk keberlangsungan lembaga survey itu sendiri. Ketika lembaga survey merekayasa data, ketika itu pula lembaga itu akan mengalami masalah di dalam melakukan generalissi. Konsekuensinya, ramalan yang dimunculkan juga lebih banyak salahnya.

Konsekuensi lanjutannya adalah, kepercayaan publik, termasuk para (calon) klien, terhadap lembaga demikian akan menurun. Kalau sudah demikian, lembaga demikian akan mengalami kesulitan di dalam menemukan klien lanjutan.

Memang, tidak menutup kemungkinan adanya lembaga survey melakukan release hasil survey yang ‘abal-abal’ untuk kepentingan propaganda. Hal ini dilakukan melalui pendekatan agenda setting, merekayasa hasil dan publikasinya, agar para pemilih terpengaruh oleh hasil itu.

Agenda setting semacam itu bisa dimungkinkan manakala tidak ada counter agenda setting yang kemungkinan akan dilakukan oleh lembaga survei yang lain. Konsekuensinya, akan muncul adu propaganda antara satu dengan yang lain. Di dalam situasi semacam ini, yang akan memenangkan adu data dan argumentasi bukanlah lembaga survei yang lebih mengutamakan propaganda semacam itu, melainkan lembaga survei yang berpegang pada urusan kredibilitas di dalam melakukan survei.

Untuk Strategi
Keberadaan lembaga survei adalah sebuah keniscayaan di dalam system pemilihan terbuka dan berorientasi pasar seperti saat ini. Survey, baik yang dilakukan oleh lembaga survey yang independen, yang di*bayar, maupun oleh tim kampanye sendiri, merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam menghadapi pemilihan.

Calon atau partai membutuhkan strategi tertentu untuk memenangkan pemilihan. Dalam menyusun strategi, dibutuhkan data yang akurat. Data demikian diperlukan, contohnya, untuk kepentingan segmentasi pemilih, seperti untuk mengetahui kebutuhan, profil, dan identifikasi segmen pemilih. Juga untuk melakukan positioning, membandingkan calon atau partai satu dengan yang lainnya. Di antara cara yang kredibel untuk melakukan semuanya ini adalah melalui survey.

Ketika mengetahui data yang akurat mengenai apa saja yang hendak diketahui, para konsultan yang melakukan survei, memang bisa membuat rekomendasi, termasuk strategi untuk mendongkrak suara bagi yang masih di bawah, dan strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan posisi bagi yang ada di atas.

Tetapi, survey sendiri harus dilakukan secara akurat. Kalau tidak, rekomendasi yang dibuat itu bisa misleading. Yang akan merugi adalah pihak yang memesan dan lembaga survey yang menjadi konsultan itu.

Capres
Dalam hal survey yang di-realease oleh sejumlah lembaga survei yang kontradiktif itu, memang perlu ditelaah, apakah hal itu didasarkan untuk kepentingan propaganda atau agenda setting ataukah betul-betul didasarkan pada data yang obyektif?

Untuk ini publik sebenarnya tidak perlu risau. Survei itu tidak dilakukan oleh lembaga tunggal, melainkan banyak lembaga. Manakala ada yang melakukan rekayasa, secara otomatis akan di-counter oleh yang lain. Pada akhirnya publik sendiri yang bisa menentukan mana lembaga survei yang kredibel dan mana yang tidak.

Yang perlu kita cermati adalah dimunculkannya calon-calon presiden dalam kurun tiga tahun sebelum pelaksanaan pemilihan. Dalam taraf tertentu, ini merupakan sesuatu yang menggembirakan. Melalui pemunculan ini, publik mulai mengetahui dan melakukan penilaian-penilaian tentang calon yang lebih pas untuk presiden 2014.

Bagaimanapun juga, pilpres 2014 merupakan pemilihan yang cukup spesial untuk Indonesia. Pertama, pemilihan ini dilakukan ketika Indonesia berproses di dalam pematangan konsolidsi demokrasi. Ketika pemilu 2014 bisa berlangsung secara baik, mampu menghasilkan anggota DPR/D, DPD, dan presiden/wapres yang baik, Indonesia akan melaju di dalam track yang lebih tepat.

Kedua, sejauh ini belum diketahui secara pasti siapa calon yang lebih pas untuk Pilpres 2014. Hal ini tidak lepas dari realitas bahwa Presiden SBY tidak mungkin mencalonkan lagi. Sementara itu, Wakil Presiden Boediono sejak awal tidak dianggap sebagai tandem, untuk maju pada Pilpres 2014. Konsekuensinya, persaingan akan berlangsung lebih terbuka, baik untuk orang-orang di seputar Presien SBY maupun untuk calon lain di luar lingkaran istana.

Hanya saja, pemunculan nama jauh hari sebelum pelaksanaan pilpres juga menjadi tantangan bagi capres. Masyarakat tidak saja akan menilai kekekuatan, melainkan juga kelemahannya. Jatuh bangun di dalam proses pencalonan yang panjang, tidak saja membutuhkan biaya yang besar, tetapi juga melelahkan. Calon yang menyimpan banyak kelemahan akan mudah tersingkir.


Oleh :Kacung Marijan, Guru Besar Universitas Airlangga dan Staf Ahli Mendikbud
source: http://beritahr.com

Apa itu Riset Pemasaran?

Riset pemasaran adalah kegiatan penelitian di bidang pemasaran yang dilakukan secara sistematis mulai dari perumusan masalah, perumusan tujuan penelitian, pengumpulan data, pengumpulan data, pengolahan data dan interpretasi hasil penelitian. Kesemuanya itu ditujukan untuk masukan bagi pihak manajemen dalam rangka identifikasi masalah dan pengambilan keputusan. Hasil riset pemasaran ini dapat dipakai untuk perumusan strategi pemasaran dalam merebut peluang pasar.

Berkenaan dengan definisi yang luas mengenai riset pemasaran, American Marketing Association(AMA) memberikan definisi resmi mengenai riset pemasaran pada tahun 1987 sebagai “fungsi yang menghubungkan konsumen, pelanggan dan masyarakat umum dengan pemasar melalui informasi. Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan peluang dan masalah pemasaran; merumuskan, menyempurnakan dan mengevaluasi tindakan-tindakan pemasaran; memantau kinerja pemasaran; dan menyempurnakan pemahaman yang dapat membuat aktivitas pemasaran lebih efektif. Riset pemasaran menentukan informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan tersebut; merancang metode untuk pengumpulan informasi; mengelola dan mengimplementasikan proses pengumpulan data; menganalisis hasil-hasil yang diperoleh; dan mengkomunikasikan hasil temuan dan implikasinya”.

Maksud tindakan yang sistematis seperti yang dijelaskan di atas adalah suatu tindakan yang dilakukan secara teratur dan konsisten didasarkan atas kegiatan-kegiatan yang ilmiah serta dapat dibuktikan kebenarannya. Untuk kegiatan riset pemasaran, kegiatan yang sistematis tersebut meliputi berbagai  kegiatan, mulai dari; perumusan masalah, penentuan desain riset, perancangan metode pengumpulan data, perancangan sampel dan pengumpulan data, analisis dan interpretasi data serta penyusunan laporan riset.

Perumusan Masalah

Salah satu peranan penting dari riset pemasaran adalah membantu merumuskan masalah yang harus diatasi. Riset hanya dapat dirancang secara sistematis untuk memberikan informasi berharga jika masalah yang dihadapi telah dirumuskan secara jelas dan akurat. Proses perumusan masalah meliputi pula spesifikasi tujuan riset yang dilakukan.

Penentuan Desain Riset

Pada tahapan ini dibuat kerangka untuk melaksanakan penelitian. Di dalamnya memuat secara rinci prosedur untuk pengumpulan data, cara pengujian hipotesis, sampai dengan model analisis yang dipergunakan.

Perancangan Metode Pengumpulan Data

Setelah ditentukan model yang dipakai untuk pengumpulan data, dilakukan kegiatan pengumpulan data  baik primer maupun sekunder. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara interviewing, dengan wawancara langsung, telepon maupun surat. Sedangkan untuk mendapatkan data sekunder dapat digunakan fasilitas internet, perpustakaan, publikasi lembaga-lembaga statistik, majalah dan sebagainya.

Perancangan Sampel dan Pengumpulan Data

Perancangan sampel harus dilakukan dengan menspesifikasi kerangka sampling, proses pemilihan sampel dan jumlah sampel. Kerangka sampling merupakan daftar unsur populasi yang harus diambil sampelnya. Proses pemilihan sampel didasarkan pada berbagai metode sampling, baik probability sampling maupun non probability sampling.

Analisis dan Interpretasi Data

Temuan riset pemasaran tidak akan ada nilainya jika tidak dianalisis dan diinterpretasikan. Analisis data terdiri atas beberapa langkah, yakni: editing, koding, tabulasi, analisis (misalnya uji statistik) dan interpretasi data.

Penyusunan Laporan Riset

Laporan riset merupakan rangkuman hasil, kseimpulan dan rekomendasi penelitian yang diserahkan kepada pihak manajemen untuk pengambilan keputusan. Biasanya laporan riset akan menjadi standar penilaian yang digunakan oleh para eksekutif dalam mengevaluasi proses manfaat riset pemasaran. oleh sebab itu laporan riset harus jelas, informatif dan akurat.

Oleh: Musliadi

TEKNIK WAWANCARA (In-depth Interview)

Wawancara adalah merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Esterberg, 2002). Wawancara merupakan alat mengecek ulang atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya dan juga merupakan teknik komunikasi langsung antara peneliti dan sampel (responden).

Dalam penelitian dikenal teknik wawancara-mendalam (Hariwijaya 2007: 73-74). Teknik ini biasanya melekat erat dengan penelitian kualitatif. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Keunggulannya ialah memungkinkan peneliti mendapatkan jumlah data yang banyak, sebaliknya kelemahan ialah karena wawancara melibatkan aspek emosi, maka kerjasama yang baik antara pewawancara dan yang diwawancari sangat diperlukan.

Dari sisi pewawancara, yang bersangkutan harus mampu membuat pertanyaan yang tidak menimbulkan jawaban yang panjang dan bertele-tele sehingga jawaban menjadi tidak terfokus. Sebaliknya dari sisi yang diwawancarai, yang bersangkutan dapat dengan enggan menjawab secara terbuka dan jujur apa yang ditanyakan oleh pewawancara atau bahkan dia tidak menyadari adanya pola hidup yang berulang yang dialaminya sehari-hari. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden).

Metode wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan data yang umum digunakan untuk mendapatkan data berupa keterangan lisan dari suatu narasumber atau responden tertentu. Data yang dihasilkan dari wawancara dapat dikategorikan sebagai sumber primer karena didapatkan langsung dari sumber pertama. Proses wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber atau responden tertentu. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara tersebut biasanya telah terstruktur secara sistematis agar didapatkan hasil wawancara yang lebih spesifik dan terperinci. Walaupun adakalanya wawancara berlangsung tidak terstruktur atau terbuka sehingga menjadi sebuah diskusi yang lebih bebas. Dalam kasus ini tujuan pewawancara mungkin berkisar pada sekedar memfasilitasi narasumber atau responden untuk berbicara (Blaxter et.al, 2006: 258-259). Wawancara yang lebih terbuka sering kita lihat dalam acara talkshow. Namun demikian, wawancara terstruktur tetap lebih baik untuk mendapatkan data yang lebih spesifik.

Menurut Musta’in Mashud di dalam buku Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan (2005), secara umum wawancara dibagi menjadi dua sesuai standarisasinya yaitu wawancara berencana dan tidak berencana. Wawancara berencana biasanya telah disiapkan model-model pertanyaan yang pasti berupa kuesioner yang telah secara sistematis disusun sedemikian urut. Kuesioner tersebut nantinya diajukan kepada para responden dengan cara bisa melalui wawancara yang dalam hal ini sifatnya tertutup karena pewawancara tidak diperkenankan mengembangkan pertanyaan dan menanyakan persis dengan apa yang ada dikuesioner atau bisa juga dengan menyodorkan lembaran kuesioner dan membiarkan responden menjawab. Dalam hal ini jelas tujuannya adalah mencari keseragaman jawaban karena pertanyaan sifatnya pakem dan tidak bisa ditambah atau dikurangi. Model seperti ini seringkali digunakan dalam riset yang bersifat menguji hipotesis. Sebaliknya, wawancara yang tidak terencana tidak memiliki persiapan susunan yang mendasar. Model ini memungkinkan penanya mengembangkan pertanyaan secara spontanitas namun tidak asal-asalan.

Lebih mendetail lagi, wawancara tidak terencana dibagi lagi menjadi dua yaitu wawancara bebas dan terfokus. Wawancara bebas dikatakan bebas karena tidak terikat sistematika susunan pertanyaan tertentu namun hanya diarahkan oleh beberapa pedoman wawancara sehingga pewawancara dapat bebas mengembangkan apa yang akan ditanyakan nantinya. Bedanya dengan wawancara terfokus adalah apabila terfokus maka meskipun pewawancara terikat dengan pedoman pertanyaan, pewawancara harus tetap mengarahkan fokus pertanyaan pada satu persoalan saja. Hal ini lebih menghemat waktu karena seringkali pada wawancara bebas pewawancara terlibat pada obrolan yang sedikit keluar dari topik permasalahan utama.

Ada dua jenis wawancara jika dilihat dari sifat pertanyaannya yaitu wawancara tertutup dan terbuka. Pada wawancara tertutup, baik yang diwawancarai atau pewawancara betul-berul terikat pada struktur susunan pertanyaan wawancara. Model pertanyaan seperti ini seringkali digunakan pada survei dan tidak memberikan peluang bagi responden untuk mengembangkan jawaban lebih dalam. Sebaliknya, model pertanyaan terbuka pewawancara dapat melakukan observasi jawaban jauh lebih dalam dan leluasa karena tidak terikat pada satu struktur susunan tertentu.

Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif. Selain itu, ada beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan untuk menjadi pewawancara yang baik, yaitu jujur, mempunyai minat, berkepribadian dan tidak temperamental, adaptif, akurasi, dan berpendidikan (Moser & Kalton dalam Musta’in Mashud dalam Bagong & Sutinah 2005: 76).


PROSES PENELITIAN PASAR


Penelitian pasar termasuk jenis penelitian deskriptif, dimana tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran kondisi pasar untuk jenis produk barang atau layanan tertentu. Dengan penelitian pasar seorang pimpinan dapat mengambil keputusan tentang strategi dan taktik yang digunakan untuk memasarkan produk tertentu.

Dalam kaitannya dengan perusahaan maka jenis penelitian yang dilakukan perusahaan sebaiknya adalah penelitian yang memiliki dampak terhadap pengembangan pemasaran dan peningkatan mutu produknya. Salah satu jenis penelitian ditinjau dari tingkat eksplanasinya adalah penelitian deskriptif (Sugiyono: 2006, 5), jenis penelitian ini dapat dilakukan oleh perusahaan dalam kaitannya dengan pemasaran produknya. Jenis penelitian deskriptif sendiri dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu (1) apabila hanya mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-kalimat penjelasan secara kualitatif maka disebut penelitian deskriptif kualitatif; (2) Apabila dilakukan analisis data dengan menghubungkan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka disebut deskriptif asosiatif; dan (3) apabila dalam analisis data dilakukan pembandingan maka disebut deskriptif komparatif.

A. Persiapan Penelitian

Sebuah penelitian beranjak dari masalah yang ditemukan atau dirasakan. Yang dimaksud masalah adalah setiap hambatan atau kesulitan yang membuat seseorang ingin memecahkannya. Jadi sebuah masalah harus dapat dirasakan sebagai satu hambatan yang harus diatasi apabila kita ingin melakukan sesuatu. Dalam arti lain sebuah masalah terjadi karena adanya kesenjangan (gap) antara kenyataan dengan yang seharusnya. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.
Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka lalu perlu dirumuskan. Perumusan ini penting, karena berdasarkan rumusan tersebut akan ditentukan metode pengumpulan data, pengolahan data maupun analisis dan peyimpulan hasil penelitian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah, yaitu: Sebaiknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, padat dan jelas, memberi petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data, dan cara menganalisisnya.

Setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan teoritis penelitian yang akan dilakukan itu. Hal lain yang lebih penting makna dari penelaahan kepustakaan adalah untuk memperluas wawasan keilmuan bagi para calon peneliti, karena kita sadari bahwa semua informasi yang berkaitan dengan keilmuan dalam hal ini teori ataupun hasil penelitian para ahli semua sudah tertuang dalam kepustakaan.

Selanjutnya ditentukan metode pengumpulan data, yang diantaranya meliputi metode wawancara, angket, pengamatan dan dokumentasi. Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka di dalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan dan biasanya disebut pedoman wawancara. Untuk memperoleh jawaban secara tertulis dari responden, digunakan angket atau kuesioner. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memproleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Istilah angket digunakan untuk menyebutkan metode maupun instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket berarti instrumen yang digunakan adalah angket.

Selanjutnya data dapat diambil melalui proses pengamatan atau observasi. Pengamatan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengamatan non sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan dan pengamatan sistematis, yang dilakukan oleh pengamatan dengan menggunakan pedoman dalam melakukan pengamatan. Saat melakukan penelitian di mana sumber datanya berupa tulisan atau dokumen, digunakan metode dokumentasi.

B. Pelaksanaan Pengumpulan dan Pengolahan Data
Setelah peneliti melakukan persiapan seperti dijelaskan di atas, maka selanjutnya dilakukan pengumpulan data. Untuk seorang peneliti perusahaan, pengumpulan data dilakukan di lingkungan pasar atau masyarakat yang menjadi sasaran produknya. Dalam hal rancangan penelitian deskriptif aplikatif, maka pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan angket, wawancara dan pengamatan.

Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu segera dilakukan pengolahan data. Selanjutnya data yang telah diolah tersebut disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan lain-lain agar memudahkan dalam pengolahan serta analisis selanjutnya.

C. Analisis

Data hasil olahan tersebut kemudian harus dianalisis, data deskriptif kualitatif sering hanya dianalisis menurut isinya dan karenanya analisis seperti ini juga disebut analisis isi (content analysis). Dalam analisis deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel data yang berisi frekuensi, dan kemudian dihitung mean, median, modus, persentase, standar deviasi atau lainnya. Untuk analisis statistik, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitiannya. Apabila penelitian yang dilakukan hanya berhenti pada penjelasan masalah dan upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan (untuk meningkatkan mutu pembelajaran), maka setelah disajikan data hasil wawancara, angket, pengamatan atau dokumentasi, maka selanjutnya dianalisis atau dibahas dan diberi makna atas data yang disajikan tersebut. Tetapi apabila penelitian juga dimaksudkan untuk mengetahui tingkat hubungan maka harus dilakukan pengujian hipotesis sebagaimana hipotesis yang telah ditetapkan untuk diuji. Misalnya uji statistik yang dilakukan adalah uji hubungan, maka akan diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, yaitu hubungan antar variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti, dengan taraf signifikansi tertentu, misalnya 5% atau 10%., atau dapat terjadi hubungan antar variabel penelitian atau perbedaan antara sampel yang diteliti tidak signifikan. Apabila ternyata dari hasil pengujian diketahui bahwa hipotesis alternatif diterima (hipotesis nol ditolak) berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau adanya perbedaan diterima sebagai hal yang benar, karena telah terbukti demikian. Sebaliknya dalam kemungkinan hasil yang kedua dinyatakan hipotesis alternatif tidak terbukti kebenarannya, maka berati hipotesis nol yang diterima. Dengan telah diambilnya hasil pengujian mengenai penerimaan atau penolakan hipotesis maka berati analisis statistik telah selesai, tetapi perlu diingat bahwa pelaksanaan penelitian masih belum selesai, karena hasil keputusan tersebut masih harus diberi interprestasi atau pemaknaan.

Hasil analisis dari pengujian hipotesis dapat dikatakan masih bersifat faktual, untuk itu selanjutnya perlu diberi arti atau makna oleh peneliti. Dalam pemaknaan sering kali hasil pengujian hipotesis penelitian didiskusikan atau dibahas dan kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian dipastikan seorang peneliti mengharapkan hipotesis penelitiannya akan terbukti kebenarannya. Jika memang demikian yang terjadi, maka kemungkinan pembahasan menjadi tidak terlalu berperan walaupun tetap harus dijelaskan arti atau maknanya. Tetapi jika hipotesis penelitian itu ternyata tidak tahan uji, yaitu ditolak, maka peranan pembahasan menjadi sangat penting, karena peneliti harus mengekplorasi dan mengidentifikasi sumber masalah yang mungkin menjadi penyebab tidak terbuktinya hipotesis penelitian.

D. Penarikan Kesimpulan

Akhirnya dalam kesimpulan harus mencerminkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Jangan sampai antara masalah penelitian, tujuan peneltian, landasan teori, data, analisis data dan kesimpulan tidak ada runtutan yang jelas. Apabila penelitian mengikuti alur atau sistematika berpikir yang runut seperti itu maka penelitian akan dapat dikatakan telah memiliki konsistensi dalam alur penelitiannya.

Apa itu Diskusi Kelompok Terarah atau Focus Group Discussion (FGD)


Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) adalah suatu proses pengumpulan informasi suatu masalah tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto, 1998). Menurut Henning dan Coloumbia (1990), diskusi kelompok terarah adalah wawancara dari sekelompok kecil orang yang dipimpin oleh seorang narasumber atau moderator yang secara halus mendorong peserta untuk berani berbicara terbuka dan spontan tentang hal yang dianggap penting yang berhubungan dengan topik diskusi saat itu.

Interaksi diantara peserta merupakan dasar untuk memperoleh informasi. Peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk mengajukan dan memberikan pernyataan, menanggapi, komentar maupun mengajukan pertanyaan.

Tujuan FGD : Tujuan FGD adalah untuk memperoleh masukan maupun informasi mengenai suatu permasalahan yang bersifat lokal dan spesifik. Penyelesaian tentang masalah ini ditentukan oleh pihak lain setelah masukan diperoleh dan dianalisa.

Karakteristik FGD
  • Peserta terdiri dari 6 – 12 orang dengan maksud agar setiap individu mendapat kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. 
  • Umumnya FGD dilaksanakan pada populasi sasaran yang homogen (mempunyai ciri-ciri yang sama) ciri-ciri yang sama tersebut ditentukan oleh tujuan dari penelitian. 
Ada beberapa alasan dipergunakannya FGD yaitu :
  • Adanya keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara. 
  • Untuk memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu yang relatif singkat. 
  • Sebagai metode yang dirasa cocok bagi permasalahan yang bersifat sangat lokal dan spesifik oleh karena itu FGD yang melibatkan masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling ideal. 
  • Untuk menumbuhkan peranan memilih dari masyarakat yang diteliti, sehingga pada peniliti memberikan rekomendasi, dengan mudah masyarakat mau menerima rekomendasi tersebut. 
Pembentukam FGD

Setiap FGD dibutuhkan 1 (satu) orang moderator, 1 (satu) pencatat proses, 1 (satu) pengembang peserta dan 1 (satu) atau 2 (dua) orang logistik dan blocker (Irwanto, 1998). Tugas utama moderator atau fasilitator adalah :
  1. Menjamin terbentuknya suasana yang akrab, saling percaya dan yakin diantara peserta. Peserta harus saling diperkenalkan. 
  2. Menerangkan tatacara berinteraksi dengan menekankan bahwa semua pendapat dan saran mempunyai nilai yang sama dan sama pentingnya dan tidak ada jawaban yang benar atau salah. 
  3. Cukup mengenal permasalahannya sehingga dapat mengajukan pertanyaan yang sesuai dan bersifat memancing peserta untuk berfikir. Perlu adanya garis besar topik yang akan didiskusikan untuk menentukan arah diskusi. 
  4. Moderator harus bersikap santai, antusias, lentur, terbuka terhadap saran-saran, bersedia diinterogasi, bersabar dan harus dapat mengendalikan suaranya. 
  5. Memperhatikan keterlibatan peserta, tidak boleh berpihak atau membiarkan beberapa orang tertentu memonopoli diskusi dan memastikan bahwa setiap orang mendapat kesempatan yang cukup untuk berbicara. 
  6. Memperhatikan komunikasi atau tanggapan yang berupa bahasa tubuh atau non verbal. 
  7. Mendengarkan diskusi sebaik-baiknya sambil memperhatikan waktu dan mengarahkan pembicaraan agar dapat berpindah dengan lancar dan tepat pada waktunya sehingga semua masalah dapat dibahas sepenuhnya. Lama pertemuan tidak lebih dari 90 menit, untuk menghindari kelelahan. 
  8. Peserta diskusi adalah orang dari populasi sasaran terpilih secara acak sehingga dapat mewakili populasi sasaran. Tetapi seringkali cara ini tidak mungkin dilakukan atau tidak diinginkan karena adanya keterbatasan ekonomi, demografis atau kebudayaan, maka lebih baik membentuk kelompok yang umumnya, yaitu dengan menyaring berdasarkan karakteristik tertentu.

Cara Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Kepuasan pelanggan yaitu respon atau tanggapan yang diberikan para konsumen setelah terpenuhinya kebutuhan mereka akan sebuah produk ataupun jasa, sehingga para konsumen memperoleh rasa nyaman dan senang karena harapannya telah terpenuhi. Selain itu kepuasan pelanggan juga sering dijadikan sebagai salah satu tujuan utama dari strategi pemasaran bisnis, baik bisnis yang dijalankan dengan memproduksi barang maupun bisnis jasa. 

Keberhasilan strategi pemasaran suatu usaha dapat dicapai jika kepuasan pelanggan telah terpenuhi. Namun untuk memperoleh kepuasan pelanggan tidaklah mudah, karena tiap pelanggan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda – beda walaupun membutuhkan produk yang sama. Proses pemenuhan kepuasan pelanggan tidak hanya membutuhkan produk atau jasa yang berkualitas saja, namun juga membutuhkan adanya sistem pelayanan yang mendukung. Sehingga para pelanggan akan merasa senang dengan produk atau jasa yang dibutuhkan, serta nyaman dengan pelayanan yang diberikan. 

Adanya kepuasan pelanggan ternyata juga dapat mempengaruhi omset penjualan yang dihasilkan. Jika pelanggan merasa puas akan suatu produk maka permintaan akan meningkat dan omset penjualan pun ikut naik, sebaliknya jika pelanggan tidak merasa puas maka permintaan akan menurun begitu juga dengan omset penjualannya. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan yaitu, pelanggan yang kurang puas dengan suatu produk tidak akan membeli ataupun menggunakan lagi produk yang kita tawarkan. Selain itu pelanggan yang kurang puas juga dapat menceritakan kepada konsumen lain tentang keburukan produk yang mereka dapatkan, sehingga dapat menimbulkan citra buruk di kalangan para konsumen. Untuk itu, berikut kami berikan beberapa strategi meningkatkan kepuasan pelanggan, agar dapat terhindar dari kemungkinan buruk seperti diatas:
  1. Berikan produk yang berkualitas, serta bebas dari kerusakan ataupun kecacatan saat sampai di tangan pelanggan. Sebaiknya cek terlebih dahulu kualitas produk atau jasa yang akan diberikan kepada pelanggan
  2. Berikan kualitas pelayanan yang ramah, ketepatan waktu penyampaian, serta menggunakan sistem yang mudah dipahami para pelanggan. Sehingga para pelanggan tidak merasa kesulitan dengan pelayanan yang diberikan, baik pelayanan langsung maupun pelayanan online
  3. Fokus pada kepentingan atau pencapaian kepuasan pelanggan, sehingga produk serta pelayanan yang diberikan dapat memenuhi harapan pelanggan
  4. Memperhatikan harga produk maupun biaya pelayanan yang sesuai dengan kondisi pasar saat ini, serta sesuaikan dengan nilai produk atau jasa yang ditawarkkan. Karena pelanggan akan membandingkan antara biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dari suatu produk
  5. Berikan jaminan keamanan dari produk maupun pelayanan yang diberikan, sehingga para pelanggan percaya dengan produk ataupun jasa yang ditawakan dan akan terus menjadi pelanggan setia perusahaan kita. Misalnya dengan mencantumkan ijin dari Badan POM bagi produk makanan dan obat. 
Setelah memiliki beberapa strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, langkah berikutnya Anda dapat mengukur kepuasan pelanggan Anda dengan beberapa cara sederhana berikut:
  1. Menggunakan sistem saran dan kritik dari para pelanggan. Misalnya dengan menyediakan kotak saran maupun kritik, atau menyediakan layanan telepon suara konsumen
  2. Dengan mengadakan survey kepuasan pelanggan. Biasanya dilakukan dengan memberikan kuesioner pada pelanggan yang sedang membeli produk kita, atau dapat juga melakukan survey dengan melakukan telepon acak untuk menanyakan pelayanan yang selama ini telah diberikan
  3. Dengan mencoba menghubungi kembali pelanggan yang sudah lama tidak membeli produk kita. Sehingga kita bisa mengetahui penyebab mereka berhenti berlangganan, apakah karena kecewa dengan produk kita atau karena ada faktor lain. Sehingga kita dapat mengevaluasi produk serta pelayanan yang selama ini diberikan. 
Dengan adanya penilaian kepuasan pelanggan kita dapat mengetahui kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Yang berpengaruh pula terhadap omset penjualan produk. Untuk itu berikan pelayanan prima bagi setiap pelanggan Anda, agar mereka merasa senang dan nyaman dengan produk kita. Salam sukses.