Showing posts with label Kualitatif. Show all posts

MENYIAPKAN SKENARIO CENTRAL LOCATION TEST


Istilah "central location test" atau "test hall" mengacu pada tes terhadap konsumen yang dilakukan di fasilitas khusus yang disesuaikan di lokasi yang nyaman di mana kelompok-kelompok besar orang dapat berkumpul. 

Central Location Test (CLT) pada dasarnya adalah metode survei tatap muka dimana responden akan diundang, baik melalui pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan sebelumnya. Metode ini dirancang untuk studi yang memerlukan materi stimulus yang mungkin akan ditampilkan dan/atau diuji dalam kondisi standar. 

http://penelitianpasar.blogspot.com/Misalnya, dalam tes kemasan mungkin perlu menampilkan rak toko dalam ukuran yang sebenarnya atau mengukur eye-tracking, yaitu tes sensorik atau pemantauan gerakan mata responden menggunakan pencahayaan khusus dan ratusan sampel (prototipe) yang perlu disimpan dalam kondisi yang cukup aman, dll.

Untuk menyiapkan penelitian ini, sebuah lembaga riset harus mengambil sejumlah keputusan yang berdampak pada kualitas sekaligus memiliki nilai pemasaran dari data yang akan diperoleh. 

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan sebuah penelitian Central Location Test antara lain; 
  1. Skenario tes seperti apa yang akan digunakan?
  2. Haruskah responden diberitahu nama merek item/produk yang diteliti?
  3. Lokasi seperti apa yang akan dipilih untuk penelitian ini?
  4. Kriteria apa yang harus diperhitungkan dalam pemilihan (screening) responden?
  5. Bagaimana membujuk responden untuk mengikuti penelitian ini?
  6. Seberapa yakinkah proses penelitian ini bisa dikendalikan dengan aman sampai akhir?
  7. Apakah penentuan jadwal penelitian telah dirasa efektif?


Ketika merencanakan sebuah penelitian central location test, ada beberapa skenario yang bisa kita lakukan. Jika masing-masing responden hanya akan menilai satu produk, maka tes dengan skenario "monadik" bisa kita gunakan, sedangkan jika ada kebutuhan untuk menguji beberapa produk sekaligus, salah satu skenario tes lainnya bisa digunakan. Pemilihan skenario tes ini tidak hanya bergantung pada jumlah produk yang akan diuji tetapi juga pada tujuan khusus penelitian itu sendiri. 

Monadic Test
Dalam hal ini setiap responden menilai hanya satu produk kemudian dituangkan dalam sebuah kuesioner. Skenario ini digunakan dalam situasi misalnya peluncuran produk baru, yaitu untuk mengetahui apakah produk yang akan diluncurkan dapat diterima oleh konsumen. Jenis tes ini juga dapat digunakan untuk menilai produk-produk inovatif atau tidak memiliki kompetitor secara langsung di pasar. Jika ada kompetisi, maka tujuan dari tes ini adalah untuk menentukan posisi produk dalam kaitannya dengan produk pesaing, dan/atau untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan dari produk pesaing. 

Paired Comparison
Ini merupakan tes perbandingan yang paling sederhana, yaitu melibatkan responden yang diperlihatkan dua produk pada saat yang sama dan meminta mereka untuk membandingkan dalam hal kriteria yang telah ditentukan kedalam sebuah kuesioner. Skenario ini juga bisa digunakan untuk membandingkan formula yang berbeda dari produk yang sedang dikembangkan dalam rangka mengetahui produk mana yang paling cocok untuk dipasarkan. Penting untuk diingat, bahwa evaluasi produk dalam tes perbandingan ini adalah evaluasi yang bersifat relatif, responden akan menilai produk mana yang menurut mereka adalah baik. 

Sequential-monadic test
Sequential-monadic test biasanya digunakan untuk mendapatkan kedua penilaian produk baik relatif maupun absolute. Skenario ini melibatkan responden yang akan diminta untuk mengevaluasi beberapa konsep dengan cara dirotasi satu demi satu. 
Pertama, responden diberikan satu produk dan diminta menilainya melalui sebuah kuesioner. Kemudian diberi produk yang kedua, dan memintanya untuk menilai lagi melalui kuesioner kedua. Terakhir, responden diberi sebuah kuesioner untuk membandingkan produk pertama dan kedua. Responden harus mendapatkan semua konsep secara merata sebagai titik awal, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk melihat setiap konsep pertama. 
Responden pertama menilai setiap produk secara terpisah, dan kemudian membandingkannya. Hal ini memungkinkan klien untuk menentukan apakah perbedaan antara produk akan ditunjukkan oleh responden selama melakukan evaluasi perbandingan akhir. 

Proto-monadic test
Skenario ini berbeda dengan sequential-monadic test karena tidak ada kuesioner untuk menilai produk kedua. Produk pertama yang dinilai dan produk kedua hanya digunakan sebagai pembanding produk pertama. Urutan di mana produk yang diperlihatkan akan dirotasi, sehingga akan memberikan hasil perbandingan, sekaligus evaluasi pada masing-masing produk. 

Repeat paired comparison
Dalam skenario ini responden diminta untuk membandingkan dua produk yang sama setidaknya dua kali. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penilaian responden tidak akan sembarangan atau hasil dari sekedar kesan sesaat. Responden akan diberikan dua produk sekaligus, dan sebuah kuesioner untuk membandingkan diantara keduanya. Namun responden tidak diberitahukan bahwa produk-produk tersebut adalah sama. 

Dari semua skenario di atas, di mana ada sejumlah besar varian produk yang akan diuji, maka solusi yang dirancang adalah responden hanya menguji sebagian dari semua varian. Hal ini biasanya karena pembatasan anggaran atau waktu, atau sarana yang terbatas untuk menguji sejumlah besar sampel dalam satu sesi. Misalnya, ketika menilai rasa biskuit, dengan mencoba 4-5 produk, biasanya responden sudah dapat membedakan antara tingkat kemanisan biskuit berikutnya. 

“Blind” and branded tests
Merek merupakan bagian dari produk secara integral. Dalam menilai sebuah produk maka akan terhubung dengan kesadaran dan persepsi merek, opini yang objektif tentang pengguna, dan pengalaman konsumen terhadap merek tersebut. 

Untuk semua alasan ini, maka pertimbangan perlu atau tidaknya pemberitahuan merek dari produk yang diuji kepada responden menjadi sangat krusial, dan semua ini harus kembali kepada tujuan penelitian itu sendiri. 

A "blind" test harus digunakan di mana opini yang objektif tentang atribut produk itu sendiri (rasa, penampilan, dll) yang diperlukan - sehingga merek tidak akan mempengaruhi penilaian. Tes tersebut digunakan untuk membandingkan produk pesaing (mereka mengungkapkan perbedaan yang paling jelas diantara produk) atau pada tahap desain produk - tes pada prototipe memungkinkan produsen untuk menciptakan formula yang paling cocok untuk konsumen.


Disunting oleh: Sutrisno
dari berbagai sumber*

Cara Menjadi Moderator FGD (Focus Group Discussion)


Focus Group Discussion yang lebih terkenal dengan singkatannya FGD merupakan salah satu metode riset kualitatif yang paling terkenal selain teknik wawancara. FGD adalah diskusi terfokus dari suatu group untuk membahas suatu masalah tertentu, dalam suasana informal dan santai. Jumlah pesertanya bervariasi antara 8-12 orang, dilaksanakan dengan panduan seorang moderator.

Berbeda dengan riset kuantitatif yang metodologinya memiliki sifat pasti(exact), metode FGD yang bersifat kualitatif memiliki sifat tidak pasti, berupa eksploratori atau pendalaman terhadap suatu masalah dan tidak dapat digeneralisasi. Kualitas hasil FGD sangat bergantung dari kualitas moderator yang melaksanakannya. Menjadi moderator susah-susah-gampang. Biasanya bagi rekan-rekan yang pertama kali memandu FGD akan merasa kebingungan dengan alur pembicaraan yang melompat-lompat dan repot menangani sifat-sifat peserta FGD yang sangat berbeda-beda

Bagi saya pribadi, FGD memiliki tantangan yang unik dibanding metode riset lainnya. Saya pernah stuck di sesi FGD yang sangat kaku karena di salah satu perusahaan milik pemerintah daerah itu, memutasikan pegawai ke daerah pelosok, semudah membeli gorengan di warung depan kantor. Anda bisa bayangkan bagaimana peserta sedapat mungkin menutup mulut rapat-rapat, tidak berpendapat. Atau di kesempatan lainnya saat saya menjalankan FGD dengan peserta ibu-ibu arisan dengan SES C dan D. yang suasananya lebih mirip demo panci jepang, karena riuh rendah saling berebut bicara. Ini semua memberi pengalaman yang berharga untuk dibagi pada Anda.

Berikut adalah beberapa hal yang saya sarikan dari pengalaman saya menjadi moderator berbagai forum FGD. Semoga bermanfaat sebagai gambaran bagi rekan-rekan yang akan mulai terjun menjadi moderator FGD profesional.

1. Terlibat dalam pembuatan moderator Guideline

Moderator guideline adalah dokumen yang berisi panduan bagi moderator mengenai topik FGD, pertanyaan apa yang harus diajukan dan faktor-faktor apa yang ingin didalami (probe) dalam FGD. Moderator guideline memiliki fungsi yang hampir sama dengan kuesioner pada metode survei, sehingga perlu dipahami secara mendalam oleh moderator. Yang paling baik tentu saja Anda sendiri sebagai moderator yang mengembangkan moderator guideline, namun jika Anda tidak dapat melakukan hal ini, ikut terlibat dalam pembuatannya adalah syarat minimal.

2. Membangun rapport dan suasana yang menyenangkan di awal sesi

FGD yang optimal diadakan dalam atmosfer santai namun fokus. Jika peserta tertekan atau merasa tidak nyaman, maka jawaban dan pernyataan yang dikeluarkannya seringkali bukanlah pernyataan yang sebenarnya. Hal ini tentu membawa bias bagi kesimpulan yang ditarik. Suasana santai dapat dibangun dengan layout ruangan yang cozy, dan relaxing music yang diputar sebelum sesi dimulai. Sedangkan rapport dibangun dengan bincang-bincang santai antara moderator dan peserta yang datang terlebih dahulu. Jangan pernah membiarkan peserta datang tanpa disambut dengan hangat, atau peserta akan menyesal telah memutuskan untuk menghadiri sesi ini.

3. Latih dan manfaatkan peripheral vision

Jika anda menatap lurus ke depan fokus pada suatu benda yang berjarak kurang lebih 2-3 meter, perhatikan bahwa yang tertangkap pandangan Anda bukan hanya benda tersebut. Tanpa menggerakkan bola mata, Anda tetap dapat melihat benda yang kurang lebih berada di samping kanan atau kiri. Inilah yang disebut peripheral vision. Saya biasa melatih cara memandang ini untuk mengetahui bahasa tubuh peserta FGD lain ketika pertanyaan saya ajukan kepada salah satu peserta. Bahasa tubuh peserta lain yang memberi pesan setuju atau tidak setuju, perlu kita perhatikan sebagai eksplorasi pendapat pada suatu pokok bahasan.

4. Mulai dari yang luas, mengerucut kepada yang spesifik

Setelah kita mengajukan pertanyaan yang umum, jawaban biasanya masih bersifat lateral dan sangat bervariasi. Jangan terjebak untuk mendalami setiap respons pada kali pertama respons tersebut muncul, atau Anda akan merasa terjun terlalu detail sehingga kehilangan big picture atas pertanyaan tersebut. Biasakan untuk melakukan listing dengan menuliskan pada secarik kertas atau jika ingin terlihat luwes, hapalkan saja. Setelah semua alternatif respons keluar, baru Anda coba untuk mendalami satu per satu.

5. Lihat juga yang tersirat, bukan hanya yang tersurat

Isi respons adalah suatu hal, namun bagaimana cara menyampaikan jawaban tersebut juga unsur lain yang perlu diperhatikan. Lihat secara lebih dalam apabila muncul ; senyum kecut, tertawa sinis, anggukan yang gamang, atau respons berapi-api yang tidak wajar. Hal-hal ini memberi sinyal bahwa ada sesuatu di balik jawaban yang diberikan.

6. Gunakan Humor untuk mencairkan suasana

Banyak keadaan kritis yang bisa dinetralisir dengan humor. Kadang-kadang resistensi atau keengganan menjawab juga dapat diminimalisir dengan humor. Namun demikian, selami budaya peserta untuk memastikan bahwa humor Anda bukan yang menyinggung namun mendekatkan hubungan Anda dan peserta FGD.

7. Jangan menerima jawaban umum yang normatif

Save the best for last. Saya menyimpan tips paling penting di akhir tulisan ini. sebagai moderator FGD, kualitas analisis kita ditentukan oleh seberapa spesifik respons yang kita dapatkan. Kita tidak menerima jawaban semacam : “ohh service di outlet ini bagus kok…” Jika mendapat jawaban seperti itu, indera moderator Anda harus berdering dan ajukan pertanyaan untuk mendalami jawaban tersebut seperti ;” bagus seperti apa yang ibu maksud..?”. nah kejelian Anda untuk mengidentifikasi respons semacam ini perlu selalu diasah. Amati respons yang memiliki unsur generalisasi, distorsi, atau eliminasi.

Wahyu T. Setyobudi
Kepala Divisi Riset – PPM Manajemen

Peralatan untuk Mystery Shopping

Dewasa ini kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama bagi para penyedia barang maupun layanan jasa masyarakat. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan persyaratan sistem manajemen kualitas terbaru yang dikeluarkan oleh ISO (International Organization for Standarization).

Beberapa perusahaan melakukan survey kepuasan pelanggan guna mengetahui tingkat kepuasan konsumennya. Terdapat beberapa metode yang biasa digunakan, misalnya melalui angket/kuisioner, interview secara langsung, dan yang paling popular adalah via Mystery Shopping.

Apa itu Mystery Shopping? Mystery shopping merupakan metode mengetahui tingkat kepuasan pelanggan dengan cara mengirim seorang mystery shopper untuk melakukan observasi/interview secara langsung. Mystery Shopper telah terlatih untuk berakting seperti pelanggan pada umumnya. Kemudian, ia akan mengajukan pertanyaan kepada konsumen mengenai keluhan dan saran tentang produk/jasa pelayanan.

Nah, mystery shopper merupakan cara yang paling ampuh untuk survey kepuasan pelanggan. Mengapa ? karena pelanggan akan memberikan jawaban yang paling jujur serta tidak dibuat-buat, sehingga hasil survey akan benar-benar obyektif. Tidak hanya itu, mystery guest juga sangat efektif untuk menguji profesionalisme karyawan.

Sebagai seorang mystery shopper, Anda dituntut agar bisa menyamar dan berakting sesempurna mungkin layaknya pelanggan normal. Untuk itulah, Anda sepatutnya juga melengkapi diri dengan peralatan survey yang benar-benar terkamuflase agar tidak dikenali. Berikut ini beberapa peralatan survey yang bisa mendukung kinerja seorang mystery guest :

survey kepuasan pelanggan1.    Perekam suara mini
Peralatan survey
yang pertama adalah perekam suara mini. Tinggal tekan tombol record, maka seluruh pembicaraan Anda dengan pelanggan akan langsung terekam. Tak perlu lagi membuat checklist. Perekam suara yang multifungsi untuk MP3, flashdisk, serta bisa dihubungkan dengan telepon untuk merekam percakapan.

peralatan survey 2.    Spy remote
Merupakan perekam otomatis dengan sound control. Efektif digunakan untuk mendapatkan feedback dari pelanggan. Bentuknya menyerupai gantungan kunci, sehingga sangat portabel. Selain audio recording, alat ini juga bisa merekam video, jepret foto, dan juga webcam.
survey kepuasan pelanggan3.    Spy watch
Peralatan survey
yang satu ini tak hanya canggih, tapi juga mendukung tampilan gaya yang modis. Gadget yang sempurna dengan fitur kamera, audio-video recording, serta webcam.All in one packet.
peralatan survey4.    Kamera jam meja
Jam meja dengan kemampuan luar biasa. Dilengkapi Layar TFT Full Color 1,8 Inch untuk playback hasil rekaman. Jam meja ini sangat fungsional untuk memonitoring kinerja karyawan, apakah sudah menerapkan pelayanan terhadap konsumen/pelanggan dengan baik atau belum. Alat ini bisa merekam suara dengan jernih, serta sebagai audio-video recorder dan webcam.
survey kepuasan pelanggan5.    Kamera saku
Dengan menggunakan kamera saku ini, Anda tidak hanya dapat mengetahui tingkat kepuasan pelanggan, namun juga bisa melakukan perbandingan harga terhadap produk barang/jasa kompetitor. Kamera terkecil dengan kemampuan maksimal, bisa rekam suara dan video, serta webcam untuk keperluan netconference.
Peralatan untuk survey kepuasan pelanggan. Lebih obyektif dalam mendapatkan feedback dari konsumen. Bisa untuk perbaikan kualitas produk & layanan jasa. Lebih dari itu, profesionalisme karyawan juga bisa dimonitoring untuk mengetahui kinerja dan digunakan sebagai rekomendasi kenaikan gaji/jabatan. Hasil survey juga bisa dianalisa untuk mendapatkan strategi pemasaran baru demi eksistensi bisnis Anda.

Selamat mencoba.

sumber: tokokomputer007.com

TEKNIK WAWANCARA (In-depth Interview)

Wawancara adalah merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Esterberg, 2002). Wawancara merupakan alat mengecek ulang atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya dan juga merupakan teknik komunikasi langsung antara peneliti dan sampel (responden).

Dalam penelitian dikenal teknik wawancara-mendalam (Hariwijaya 2007: 73-74). Teknik ini biasanya melekat erat dengan penelitian kualitatif. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Keunggulannya ialah memungkinkan peneliti mendapatkan jumlah data yang banyak, sebaliknya kelemahan ialah karena wawancara melibatkan aspek emosi, maka kerjasama yang baik antara pewawancara dan yang diwawancari sangat diperlukan.

Dari sisi pewawancara, yang bersangkutan harus mampu membuat pertanyaan yang tidak menimbulkan jawaban yang panjang dan bertele-tele sehingga jawaban menjadi tidak terfokus. Sebaliknya dari sisi yang diwawancarai, yang bersangkutan dapat dengan enggan menjawab secara terbuka dan jujur apa yang ditanyakan oleh pewawancara atau bahkan dia tidak menyadari adanya pola hidup yang berulang yang dialaminya sehari-hari. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden).

Metode wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan data yang umum digunakan untuk mendapatkan data berupa keterangan lisan dari suatu narasumber atau responden tertentu. Data yang dihasilkan dari wawancara dapat dikategorikan sebagai sumber primer karena didapatkan langsung dari sumber pertama. Proses wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber atau responden tertentu. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara tersebut biasanya telah terstruktur secara sistematis agar didapatkan hasil wawancara yang lebih spesifik dan terperinci. Walaupun adakalanya wawancara berlangsung tidak terstruktur atau terbuka sehingga menjadi sebuah diskusi yang lebih bebas. Dalam kasus ini tujuan pewawancara mungkin berkisar pada sekedar memfasilitasi narasumber atau responden untuk berbicara (Blaxter et.al, 2006: 258-259). Wawancara yang lebih terbuka sering kita lihat dalam acara talkshow. Namun demikian, wawancara terstruktur tetap lebih baik untuk mendapatkan data yang lebih spesifik.

Menurut Musta’in Mashud di dalam buku Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan (2005), secara umum wawancara dibagi menjadi dua sesuai standarisasinya yaitu wawancara berencana dan tidak berencana. Wawancara berencana biasanya telah disiapkan model-model pertanyaan yang pasti berupa kuesioner yang telah secara sistematis disusun sedemikian urut. Kuesioner tersebut nantinya diajukan kepada para responden dengan cara bisa melalui wawancara yang dalam hal ini sifatnya tertutup karena pewawancara tidak diperkenankan mengembangkan pertanyaan dan menanyakan persis dengan apa yang ada dikuesioner atau bisa juga dengan menyodorkan lembaran kuesioner dan membiarkan responden menjawab. Dalam hal ini jelas tujuannya adalah mencari keseragaman jawaban karena pertanyaan sifatnya pakem dan tidak bisa ditambah atau dikurangi. Model seperti ini seringkali digunakan dalam riset yang bersifat menguji hipotesis. Sebaliknya, wawancara yang tidak terencana tidak memiliki persiapan susunan yang mendasar. Model ini memungkinkan penanya mengembangkan pertanyaan secara spontanitas namun tidak asal-asalan.

Lebih mendetail lagi, wawancara tidak terencana dibagi lagi menjadi dua yaitu wawancara bebas dan terfokus. Wawancara bebas dikatakan bebas karena tidak terikat sistematika susunan pertanyaan tertentu namun hanya diarahkan oleh beberapa pedoman wawancara sehingga pewawancara dapat bebas mengembangkan apa yang akan ditanyakan nantinya. Bedanya dengan wawancara terfokus adalah apabila terfokus maka meskipun pewawancara terikat dengan pedoman pertanyaan, pewawancara harus tetap mengarahkan fokus pertanyaan pada satu persoalan saja. Hal ini lebih menghemat waktu karena seringkali pada wawancara bebas pewawancara terlibat pada obrolan yang sedikit keluar dari topik permasalahan utama.

Ada dua jenis wawancara jika dilihat dari sifat pertanyaannya yaitu wawancara tertutup dan terbuka. Pada wawancara tertutup, baik yang diwawancarai atau pewawancara betul-berul terikat pada struktur susunan pertanyaan wawancara. Model pertanyaan seperti ini seringkali digunakan pada survei dan tidak memberikan peluang bagi responden untuk mengembangkan jawaban lebih dalam. Sebaliknya, model pertanyaan terbuka pewawancara dapat melakukan observasi jawaban jauh lebih dalam dan leluasa karena tidak terikat pada satu struktur susunan tertentu.

Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif. Selain itu, ada beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan untuk menjadi pewawancara yang baik, yaitu jujur, mempunyai minat, berkepribadian dan tidak temperamental, adaptif, akurasi, dan berpendidikan (Moser & Kalton dalam Musta’in Mashud dalam Bagong & Sutinah 2005: 76).


JADI, ANDA TERTARIK MENJADI MYSTERY SHOPPER?


http://penelitianpasar.blogspot.com/
Mystery Shopping bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan untuk mendapatkan tambahan uang saku. Ide dari Mystery Shopping bisa dibilang sangat sederhana. Para manajer atau pemilik toko-toko ritel, restoran, dan usaha lainnya ingin tahu bagaimana performance (baik secara fisik maupun layanan) karyawan mereka pada saat manajemen tidak berada di tempat untuk mengawasi karyawannya.

Manajer atau pemilik usaha akan mengirimkan Mystery Shopper untuk menilai bagaimana karyawan mereka menangani pertanyaan pelanggan, teknik penjualan, atau apapun yang menurut manajemen mungkin perlu perbaikan. Sebagai Mystery Shopper, tentu saja Anda bekerja secara rahasia (melalui penyamaran), dan akan diberi tugas (dikenal dengan skenario) khusus untuk melakukan penilaian, transaksi (pembelian misalnya), menanyakan masalah khusus. Anda juga akan diberikan petunjuk tentang cara untuk menyelesaikan laporan secara rinci. 

Ketika Anda diminta untuk membeli produk apa saja, Anda akan mendapat penggantian biaya (reimburse) setelah Anda mengirimkan laporan Anda secara rinci, jelas, dan benar. Besaran fee dari pekerjaan ini bervariasi berdasarkan pada tingkat kesulitan, waktu yang digunakan, dan lain sebagainya. Oleh sebab itulah mengapa banyak orang ingin mendaftar sebagai Mystery Shopper ke beberapa Perusahaan penyedia Mystery Shopper pada saat yang sama.

Ada satu hal yang sangat penting jika Anda akan serius menekuni pekerjaan sebagai Mystery Shopper. Dewasa ini banyak “penipu” yang menyamar sebagai perusahaan Mystery Shopper Anda akan diperalat, dimintai data pribadi, bahkan diminta untuk mencairkan atau men-transfer sejumlah uang sebagai persyaratan administrasi misalnya.

Yang paling penting jika Anda mendapatkan email yang meminta Anda untuk mencairkan cek atau melakukan pengiriman uang ke perusahaan jasa mystery shopper, abaikan saja, dan segera tinggalkan perusahaan tersebut.

Perusahaan mystery shopping (real) tidak akan pernah meminta Anda untuk melakukan apa pun yang melibatkan pengiriman uang, mencairkan cek besar, atau transaksi finansial apapun diluar skenario yang logis.

Maka dari itu, berhati-hatilah dengan apa yang Anda lakukan. Kami sarankan Anda untuk bergabung hanya dengan satu Perusahaan Mystery Shopper yang telah terbukti berpengalaman dibidangnya, dan disarankan oleh sumber online terpercaya.

Jika Anda benar-benar serius ingin menjadi Mystery Shopper, silahkan isi formulir berikut.



MYSTERY SHOPPING

http://penelitianpasar.blogspot.com/
Mystery Shopping (MS) adalah sebuah metoda  yang digunakan untuk mengukur kualitas layanan ritel atau mengumpulkan informasi spesifik tentang produk dan layanan. Tentu saja, seperti sebutannya, "mystery", maka penilaian ini dilakukan secara rahasia (penyamaran). Sedangkan orang  yang melakukan tugas untuk berperan sebagai (seolah-olah) pelanggan biasa disebut Mystery Shopper. Merekalah yang akan melakukan tugas-tugas tertentu, misalnya membeli produk, mengajukan pertanyaan, keluhan, dan berperilaku se-alamiah mungkin dan kemudian memberikan laporan secara rinci tentang pengalaman mereka.

Praktek standar Mystery Shopping (MS) pada awal tahun 1940-an adalah sebagai cara untuk mengukur integritas karyawan. Perlengkapan yang digunakan untuk "belanja misterius" adalah rentang penilaian dari kuesioner sederhana dan alat perekam tersembunyi (audio dan video) sampai ke Spy Cam untuk merekam perjalanan mystery shopper selama proses Mystery Shopping. Banyak perusahaan Mystery Shopper sepenuhnya dikelola melalui Internet, sehingga Mystery Shopper dapat menggunakan Internet untuk mendaftar, berpartisipasi, menemukan pekerjaan Mystery Shopper dan menerima pembayaran fee.

Tempat-tempat yang paling umum untuk dilakukan Mystery Shopping biasanya seperti toko ritel, bioskop, restoran cepat saji, bank, pompa bensin, dealer mobil, apartemen dan klub-klub kesehatan, serta fasilitas perawatan kesehatan. Di Inggris, Mystery Shopper semakin sering digunakan untuk memberikan umpan balik mengenai layanan pelanggan yang diberikan oleh otoritas lokal dan organisasi nirlaba, seperti asosiasi perumahan dan keagamaan.

Cara kerjanya:

Pertama, sebuah survei model akan disusun dan diberikan untuk mendefinisikan informasi apa saja dan faktor-faktor apa saja yang memerlukan perbaikan dari perusahaan klien yang ingin diukur, sebagai bagian dari proses layanan yang diberikan oleh para karyawannya terhadap pelanggan. Ini kemudian disusun menjadi instrumen survei, dan tugas yang dialokasikan untuk menyusun daftar skenario yang akan dilakukan oleh Mystery Shopper.

Rincian dan informasi yang dicatat Mystery Shopper (di sebuah toko) biasanya meliputi:
  • Jumlah karyawan yang masuk (tidak mangkir),
  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum mystery shopper disambut,
  • Nama karyawan,
  • Apakah karyawan memberikan salam ramah (greeting) atau tidak,
  • Pertanyaan yang diajukan oleh mystery shopper untuk menemukan produk yang cocok,
  • Jenis produk yang ditampilkan,
  • Bagaimana cara karyawan membujuk mystery shopper untuk membeli produknya,
  • Apakah karyawan meminta mystery shopper untuk datang kembali ke toko tersebut,
  • Kebersihan toko, baik di halaman, ruang etalase, sampai ke toilet (rest room) jika diperlukan,
  • Kecepatan karyawan dalam melayani, dll.
Apakah semua itu sudah sesuai dengan standar operasional yang diberlakukan oleh perusahaan, baik yang berkaitan dengan pelayanan, produk, penampilan, dan perawatan?
Para mystery shopper sering diberikan instruksi atau prosedur untuk melakukan transaksi atipikal untuk menguji pengetahuan dan keterampilan karyawan dalam menghadapi masalah tertentu (dikenal dengan skenario). Di sebuah restoran misalnya, mystery shopper diberi tugas untuk berpura-pura tidak tahan terhadap laktosa, atau di toko pakaian, mystery shopper bisa menanyakan tentang layanan pembungkusan kado/gift. Skenario mystery shopper tidak selalu pada layanan pembelian.

Sementara mystery shopper sedang mengumpulkan informasi, pembeli (yang asli) biasanya berbaur ke toko yang dievaluasi sebagai pembeli biasa.

Mystery Shopper biasanya diminta untuk mengambil foto atau pengukuran, pembelian kembali, atau menghitung jumlah produk, kursi, orang-orang selama kunjungan, dan lain sebagainya. Sebuah timer atau stopwatch, kamera mungkin bisa diperlukan. Di beberapa negara, mystery shopper bahkan mendapat izin resmi dari instansi yang berwenang sebagai Detektif Swasta untuk menjalankan beberapa tugas.


Dari sana, para mystery shopper akan menyerahkan data (report) yang dikumpulkan untuk perusahaan Mystery Shopping yang bersangkutan. Perusahaan itu kemudian mereview dan menganalisa informasi ini, menyelesaikan statistik kuantitatif atau kualitatif data laporan untuk perusahaan klien. Hal ini memungkinkan pengukuran terhadap kriteria yang ditetapkan sebelumnya.


 >>JADI, ANDA TERTARIK MENJADI MYSTERY SHOPPER?

Disunting Oleh: Sutrisno

*dari berbagai sumber

Apa itu Diskusi Kelompok Terarah atau Focus Group Discussion (FGD)


Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) adalah suatu proses pengumpulan informasi suatu masalah tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto, 1998). Menurut Henning dan Coloumbia (1990), diskusi kelompok terarah adalah wawancara dari sekelompok kecil orang yang dipimpin oleh seorang narasumber atau moderator yang secara halus mendorong peserta untuk berani berbicara terbuka dan spontan tentang hal yang dianggap penting yang berhubungan dengan topik diskusi saat itu.

Interaksi diantara peserta merupakan dasar untuk memperoleh informasi. Peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk mengajukan dan memberikan pernyataan, menanggapi, komentar maupun mengajukan pertanyaan.

Tujuan FGD : Tujuan FGD adalah untuk memperoleh masukan maupun informasi mengenai suatu permasalahan yang bersifat lokal dan spesifik. Penyelesaian tentang masalah ini ditentukan oleh pihak lain setelah masukan diperoleh dan dianalisa.

Karakteristik FGD
  • Peserta terdiri dari 6 – 12 orang dengan maksud agar setiap individu mendapat kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. 
  • Umumnya FGD dilaksanakan pada populasi sasaran yang homogen (mempunyai ciri-ciri yang sama) ciri-ciri yang sama tersebut ditentukan oleh tujuan dari penelitian. 
Ada beberapa alasan dipergunakannya FGD yaitu :
  • Adanya keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara. 
  • Untuk memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu yang relatif singkat. 
  • Sebagai metode yang dirasa cocok bagi permasalahan yang bersifat sangat lokal dan spesifik oleh karena itu FGD yang melibatkan masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling ideal. 
  • Untuk menumbuhkan peranan memilih dari masyarakat yang diteliti, sehingga pada peniliti memberikan rekomendasi, dengan mudah masyarakat mau menerima rekomendasi tersebut. 
Pembentukam FGD

Setiap FGD dibutuhkan 1 (satu) orang moderator, 1 (satu) pencatat proses, 1 (satu) pengembang peserta dan 1 (satu) atau 2 (dua) orang logistik dan blocker (Irwanto, 1998). Tugas utama moderator atau fasilitator adalah :
  1. Menjamin terbentuknya suasana yang akrab, saling percaya dan yakin diantara peserta. Peserta harus saling diperkenalkan. 
  2. Menerangkan tatacara berinteraksi dengan menekankan bahwa semua pendapat dan saran mempunyai nilai yang sama dan sama pentingnya dan tidak ada jawaban yang benar atau salah. 
  3. Cukup mengenal permasalahannya sehingga dapat mengajukan pertanyaan yang sesuai dan bersifat memancing peserta untuk berfikir. Perlu adanya garis besar topik yang akan didiskusikan untuk menentukan arah diskusi. 
  4. Moderator harus bersikap santai, antusias, lentur, terbuka terhadap saran-saran, bersedia diinterogasi, bersabar dan harus dapat mengendalikan suaranya. 
  5. Memperhatikan keterlibatan peserta, tidak boleh berpihak atau membiarkan beberapa orang tertentu memonopoli diskusi dan memastikan bahwa setiap orang mendapat kesempatan yang cukup untuk berbicara. 
  6. Memperhatikan komunikasi atau tanggapan yang berupa bahasa tubuh atau non verbal. 
  7. Mendengarkan diskusi sebaik-baiknya sambil memperhatikan waktu dan mengarahkan pembicaraan agar dapat berpindah dengan lancar dan tepat pada waktunya sehingga semua masalah dapat dibahas sepenuhnya. Lama pertemuan tidak lebih dari 90 menit, untuk menghindari kelelahan. 
  8. Peserta diskusi adalah orang dari populasi sasaran terpilih secara acak sehingga dapat mewakili populasi sasaran. Tetapi seringkali cara ini tidak mungkin dilakukan atau tidak diinginkan karena adanya keterbatasan ekonomi, demografis atau kebudayaan, maka lebih baik membentuk kelompok yang umumnya, yaitu dengan menyaring berdasarkan karakteristik tertentu.